" TERIAKAN KALI LOJI "
jernih tirtamu ...
indah dirimu ...
sejuk hawamu ...
bersih ragamu ...
lihatlah!
sungguh...
dia fatamorgana
dia bagai nirwana dunia
dia bagai cleopatra
namun ...
kini jernihnya t'lah hilang
indahnya t'lah tiada ...
sejuknya t'lah mati ...
bersihnya t'lah sirna ...
lihatla!
sungguh ...
dia tersiksa ...
bagai dalam penjara
bagaikan neraka dunia ...
dengarlah !
dia berteriak menjerit
" tolong aku, selamatkan aku !!! "
lihatlah sekelilingnya
dengarlah teriakannya
kali lojiku,
" jangan menangis ! "
thata musyafa'
- pekalongan, 12 april 2008 -
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z DISINI, DITEMPAT INI, DIBLOG INI, DARIKU UNTUK SEMUA. KARNA DISINI, DITEMPAT INI, DI BLOG INI, PULA, KITA DAPAT BERBAGI...
Sabtu, November 28, 2009
Senin, Agustus 17, 2009
el FaRiz, kembali ber PUSISI mirip PUISI
untuk WS Rendra
" untukmu, mas willy... "
" untukmu, mas willy... "
merangkul kata lewat angan
pelaksana rasa mengundang
tatkala aku mendengar
pergi tanpa berpamit
sesegera aku merantau pulau,
menali kali, merakit langit
mencari - cari celah,
supaya bertemu, tapi
terlanjur terlambat
tak bisa ...
kematiankata orang - orang
ia meninggal?
tidak!
ia tak meningal, ia bukan meninggal
si burung merak hanya mencari
dan membangun tempat
untuk pemikir
untuk berdiskusi
tentang ilmu, sosial, politik
pemerintahan, ekonomi,
hukum, seni, atau
tentang apa saja
yang perlu di pikir
yang telah terblokir
oleh suplir - suplir
yang bukan pemikir,
tapi penantang sejatinya pemikir
si burung merak hanya terbang
untuk bersiap sejenak
mengumpulkan bayyinah
untuk memanah
orang - orang yang lengah
saat menjadi
belum sempat aku bercakap
dengannya
belum sempat aku bertatap
padanya
apa perlu aku menyusulnya,
membantunya, untuk melaksanakan
keadilan, dalam dunia
yang kini berbeda
untuk meneruskan
perjuangan, meski
beda ruang dan waktu
" perjuangan adalah pelaksanaan kata "
katanya,
walau bukan di bumi
di dunia lain
ijinkan aku bertemu,
membagi pikir, merenda kata
untuk keadilan lewat kesaksian
" perjuangan adalah pelaksanaan kata "
katanya!
pelaksana rasa mengundang
tatkala aku mendengar
pergi tanpa berpamit
sesegera aku merantau pulau,
menali kali, merakit langit
mencari - cari celah,
supaya bertemu, tapi
terlanjur terlambat
tak bisa ...
kematiankata orang - orang
ia meninggal?
tidak!
ia tak meningal, ia bukan meninggal
si burung merak hanya mencari
dan membangun tempat
untuk pemikir
untuk berdiskusi
tentang ilmu, sosial, politik
pemerintahan, ekonomi,
hukum, seni, atau
tentang apa saja
yang perlu di pikir
yang telah terblokir
oleh suplir - suplir
yang bukan pemikir,
tapi penantang sejatinya pemikir
si burung merak hanya terbang
untuk bersiap sejenak
mengumpulkan bayyinah
untuk memanah
orang - orang yang lengah
saat menjadi
belum sempat aku bercakap
dengannya
belum sempat aku bertatap
padanya
apa perlu aku menyusulnya,
membantunya, untuk melaksanakan
keadilan, dalam dunia
yang kini berbeda
untuk meneruskan
perjuangan, meski
beda ruang dan waktu
" perjuangan adalah pelaksanaan kata "
katanya,
walau bukan di bumi
di dunia lain
ijinkan aku bertemu,
membagi pikir, merenda kata
untuk keadilan lewat kesaksian
" perjuangan adalah pelaksanaan kata "
katanya!
Tirto, Pekalongan
in my home that's full inspiration
sabtu - senin
8 agustus 2009 - 10 agustus 2009
12.00 WIB - 18.08 WIB
in my home that's full inspiration
sabtu - senin
8 agustus 2009 - 10 agustus 2009
12.00 WIB - 18.08 WIB
el FARIZ, kembali berPUSISI mirip PUISI
enam puluh empat tahun INDONESIA
enam puluh empat tahun indonesia,
enam puluh empat tahun merah putih
berkibar di atas tiang tertinggi
di bumi indonesiaku...
enam puluh empat tahun para pejuang empat lima
tersenyum di bangkalan batu nisan
enam puluh empat tahun bendera pusaka hidup
dengan gigih yang tak kalah
enam puluh empat tahun kertas proklamasi
terblokir dalam monumen nasional
enam puluh empat tahun suara bung karno
tegas, jelas lewat teks proklamasi
enam puluh empat tahun indonesia
merdeka dari para penjajah neraka
enam puluh empat tahun merdeka!
enam puluh empat tahun indonesia!
merdeka!
enam puluh empat tahun indonesia,
enam puluh empat tahun merah putih
berkibar di atas tiang tertinggi
di bumi indonesiaku...
enam puluh empat tahun para pejuang empat lima
tersenyum di bangkalan batu nisan
enam puluh empat tahun bendera pusaka hidup
dengan gigih yang tak kalah
enam puluh empat tahun kertas proklamasi
terblokir dalam monumen nasional
enam puluh empat tahun suara bung karno
tegas, jelas lewat teks proklamasi
enam puluh empat tahun indonesia
merdeka dari para penjajah neraka
enam puluh empat tahun merdeka!
enam puluh empat tahun indonesia!
merdeka!
tirto, pekalongan
in my home that's full inspiration
senin, 17 agustus 2009
untuk indonesia KU
11.00 - 11.10 WIB
in my home that's full inspiration
senin, 17 agustus 2009
untuk indonesia KU
11.00 - 11.10 WIB
Rabu, Agustus 12, 2009
pusisi mirip puisi untuk bu endah,
pewaris
ALJABAR
ALJABAR
saat sang aljabar mendawuh
ia rebahkan sayap matematik
meniupkan butiran bulu pada seorang
wanita berjiwa, matematika...
ia rebahkan sayap matematik
meniupkan butiran bulu pada seorang
wanita berjiwa, matematika...
dengan ringkuh gigih
wanitanya menerima
dengan lapang suka tanpa duka
mengambil dawuhnya
yang bijaksana
roh aljabar datang lagi
lagi - lagi menemuinya
memberikan hatinya padanya
sukmanya terenyah
terbagi untuk membagi
untuk wanita itu, Bu Endah
sebarkan, lanjutkan,
berikan, bagikan,
katanya
wanitanya mengangguk,
ya!
dengan semangat sebuah
petulis hitam, tanpa buku
tanpa petunjuk, hanya otak
yang telah merekam
suara aljabar, ia mulai
menyebar, melanjut,
memberi, membagi
seperti inginnya
telah terlakukan
masih dengan cinta, di MAN 2 pekalongan
yang di taburkan serpihan
jiwanya aljabar
yang mengelok MAN dua,
mencerahkannya
bu endah, o... bu endah
bu endah, o... bu endah
bu endah, o... bu endah
semoga tetap menjadi
titisan aljabar
sampai waktu membisu,
diam!
bu endah, namanya
aljabar, penitisnya
bu endah, bu endah
o, bu endah
tirto, pekalongan
29 juli 2009
09.22 - 09.43 WIB
wanitanya menerima
dengan lapang suka tanpa duka
mengambil dawuhnya
yang bijaksana
roh aljabar datang lagi
lagi - lagi menemuinya
memberikan hatinya padanya
sukmanya terenyah
terbagi untuk membagi
untuk wanita itu, Bu Endah
sebarkan, lanjutkan,
berikan, bagikan,
katanya
wanitanya mengangguk,
ya!
dengan semangat sebuah
petulis hitam, tanpa buku
tanpa petunjuk, hanya otak
yang telah merekam
suara aljabar, ia mulai
menyebar, melanjut,
memberi, membagi
seperti inginnya
telah terlakukan
masih dengan cinta, di MAN 2 pekalongan
yang di taburkan serpihan
jiwanya aljabar
yang mengelok MAN dua,
mencerahkannya
bu endah, o... bu endah
bu endah, o... bu endah
bu endah, o... bu endah
semoga tetap menjadi
titisan aljabar
sampai waktu membisu,
diam!
bu endah, namanya
aljabar, penitisnya
bu endah, bu endah
o, bu endah
tirto, pekalongan
29 juli 2009
09.22 - 09.43 WIB
Jumat, Juli 24, 2009
Rabu, Juli 08, 2009
el FaRiz
janji . . .
Biar saja gundah melangit!
Biar saja awan bersengketa!
Ah, apa daya!
Kami tak punya apa - apa
Seperti mereka yang kuasa
Biarlah para petinggi tersenyum
Pujangga merintih, lewat kata
Penyair membisu, pena menari
Saat kampanye, kampanye, kampanye
Hanya mengubar janji
Saat t'lah jadi
Mana bukti! Mana!
Beradu bertutur
Mencari - cari cela
Supaya bisa rasuki
Rasuki semua jiwa, Bangsa Indonesia!
Dengan kado
Bagi mereka
Sambil berjanji, memilih
Dan laralah
Yang di dapat, kemudian
Sampai kapan bangsa ini
S'lalu di penuhi kata janji
Sedikit yang di tepati
O o o, sampai kapan lagi
Bangsa ini harus di jajahi
Oleh seribu pejanji
Yang ujungnya hanya korupsi!
Wa, wa, wa
Ah, enaknya mereka
Ah, susahnya kita
Di injak - injak oleh janji
Janji para petingg
Ku tunggu kau para petinggi
Dengan tangan yang beraksi
Bukan mulut tak terkunci!
Biar saja gundah melangit!
Biar saja awan bersengketa!
Ah, apa daya!
Kami tak punya apa - apa
Seperti mereka yang kuasa
Biarlah para petinggi tersenyum
Pujangga merintih, lewat kata
Penyair membisu, pena menari
Saat kampanye, kampanye, kampanye
Hanya mengubar janji
Saat t'lah jadi
Mana bukti! Mana!
Beradu bertutur
Mencari - cari cela
Supaya bisa rasuki
Rasuki semua jiwa, Bangsa Indonesia!
Dengan kado
Bagi mereka
Sambil berjanji, memilih
Dan laralah
Yang di dapat, kemudian
Sampai kapan bangsa ini
S'lalu di penuhi kata janji
Sedikit yang di tepati
O o o, sampai kapan lagi
Bangsa ini harus di jajahi
Oleh seribu pejanji
Yang ujungnya hanya korupsi!
Wa, wa, wa
Ah, enaknya mereka
Ah, susahnya kita
Di injak - injak oleh janji
Janji para petingg
Ku tunggu kau para petinggi
Dengan tangan yang beraksi
Bukan mulut tak terkunci!
Thata Musyafa'
In My Home, that's full inspiration
Minggu, 5 Juli 2009
10.52 - 16.42 WIB
Tirto, Pekalongan
In My Home, that's full inspiration
Minggu, 5 Juli 2009
10.52 - 16.42 WIB
Tirto, Pekalongan
Rabu, Juni 24, 2009
el FaRiz
welcome !!!
anda berada pada dunia el FaRiz!
dunianya anak muda, yang selal bergejolak pada CINTA!!!
Langganan:
Postingan (Atom)