" SKETSA TANAH INI "
bala - bala yang tlah pisah
menuju depan dengan sumringah
berpikir dalam goncangan
aku dan mereka yang lain
masih berparau lebih kacau
wajah kini tiada lagi cerah
seakan ingin membunuh bumi mereka
" A A A A A A A . . . . . . . " teriak kami
" Dimana hati Indonesia itu, Dimana ?
Dimana sinar - sinar kami yang sesungguhnya
Dimana gerbang - gerbang yang terbuka ?
Dimana !!! "
***
awan - awan mendung kian berlari,
berarakan ke timur
sementara langit biru masih menutupi
gelap tanahku, tanah kita, dan tanah mereka
Dibalik mata mereka
kami menangis
Di atas raut mereka
kami tak bisa diam
Di samping keperkasaan mereka,
kami makin terhimpit
Dan ini, kami lemah
tak berdaya ...
mulut - mulut mereka bukan lagi
Punya buaya, atau macan
yang siap mengunyah daging - daging
yang berserakan di tanah ini
Garukan - garukan di tanah itu
siap mengubur jasad mereka- mereka
Dan aku yang makin terpendam
Tiraipun tak mampu lagi membuka
" Tolong, tolong, goncangan ini
makin menjadi ... "
Kami pun tak mampu bernyawa lagi
" Wahai Pak RT, Pak Lurah,
Pak Camat, Pak Bupati, Pak Wali,
Pak Gubernur, dan Pak rsiden yang setengah kami hormati ...
tolong, lihat kami ... "
Pekalongan, Minggu 17 januari 2010
13.08 - 14.20 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar